Jokowi Mampu Gunakan & Kelola Utang Dengan Baik

Jokowi Mampu Gunakan & Kelola Utang Dengan Baik
Pemerintah di negara manapun termasuk Indonesia, setiap tahun menetapkan anggaran untuk menjalankan roda pemerintahan dan pembangunan negara.

Selisih antara dana yang tersedia untuk dibelanjakan dengan kebutuhan belanja disebut sebagai defisit anggaran tahunan yang dipenuhi melalui hutang negara. Hutang negara merupakan akumulasi dari semua defisit anggaran masa lalu dimana memang dibutuhkan untuk mencapai keadaan pembangunan kita sekarang ini.

Jadi dalam satu waktu pemerintahan tidak bisa lepas dari hutang pemerintahan sebelumnya. Pemerintah Indonesia mempertahankan kelayakan kreditnya baik dari individu maupun negara lain. Dimana sampai sekarang pun masih memberi hutang (membeli hutang negara) atas dasar reputasi yang baik dari negara kita untuk membayar hutang tepat waktu beserta bunganya.

Pemerintah mendapatkan pinjaman dengan cara menerbitkan obligasi dimana pada dasarnya pemberi hutang setuju untuk membeli obligasi (hutang negara) dengan imbalan uang kembali pada tanggal tertentu, ditambah suku bunga yang ditentukan oleh pasar.

Indonesia dianggap sebagai salah satu investasi paling aman di dunia, dimana pemerintah selalu berhasil dalam memenuhi kewajiban hutangnya.

Dalam mengurangi hutang, pemerintah dapat memilih satu atau kombinasi dari menaikkan pajak, mengurangi pengeluaran, atau menumbuhkan ekonomi.

Berapa banyak hutang dianggap terlalu banyak?.

Itu tergantung pada pertimbangan dan keputusan pemberi hutang dan seringkali terlihat sebagai hal yang tidak rasional sehingga biasa ditafsirkan mempunyai tujuan lain misalnya politis.

Namun intinya selama negara bisa memenuhi kewajiban hutangnya serta terus memperbaiki perilaku penganggarannya, maka kebutuhan untuk menutupi kekurangan pembiayaan pembangunan melalui hutang masih bisa terpenuhi dengan baik dan bisa dipertanggungjawabkan.

Apakah negara bisa bangkrut karena hutang? Tentu saja bisa.

Dalam 200 tahun terakhir ini banyak sekali negara yang menyatakan bangkrut. Beberapa tahun terakhir ini kebangkrutan juga terjadi pada negara Argentina, Yunani, Islandia bahkan Rusia, dan lain-lain.

Ada yang setelah menyatakan bangkrut semakin terpuruk, ada juga yang bisa bangkit kembali. Suatu Negara menyatakan diri bangkrut ketika dia punya hutang yang banyak, baik kepada negara lain, investor, maupun badan dunia seperti IMF, dimana negara tersebut sudah tidak sanggup lagi untuk memenuhi kewajiban hutangnya.

Bank sentral negara itu akan menyatakan default atau tidak mampu membayar. Berbeda dengan bila kita berhutang ke bank, dimana bila tidak sanggup membayar maka agunan kita akan disita, atau bila perusahaan bangkrut maka asetnya akan dijual untuk membayar hutang kepada investor, negara yang berdaulat tidak bisa disita asetnya, atau kalaupun mau, negara bisa menjual asetnya untuk membayar hutang.

Tapi tetap tidak bisa dipaksa. Meskipun demikian, apabila negara menyatakan bangkrut maka negara tersebut harus dengan sangat hati-hati mempertimbangkan sanksi yang diberikan pemberi hutang, termasuk hancurnya kepercayaan.

Karena itu, negara bangkrut biasanya akan meminta restrukturisasi hutang, misalnya dengan minta tambahan waktu atau pemotongan jumlah hutang. Contohnya yang terjadi pada Argentina yang hanya mampu membayar sepertiga hutangnya saat default tahun 2001.

No comments