Jokowi Dikritik The Economist, Istana: Ekonomi RI Justru Membaik

Jokowi Dikritik The Economist, Istana: Ekonomi RI Justru Membaik
Pemerintah mendapatkan kritik keras dari majalah ekonomi asal Inggris, The Economist. Salah satu poin yang dikritik adalah Jokowi-JK yang dinilai tak mampu mendorong pertumbuhan ekonomi, tak sesuai dengan kampanye yang menjanjikan ekonomi bisa tumbuh 7%.

Menanggapi hal tersebut staf khusus presiden Ahmad Erani Yustika menjelaskan saat ini indikator makroekonomi Indonesia masih tetap solid dan cenderung membaik.

"Tren pertumbuhan ekonomi Indonesia justru naik pada 2014 tercatat 5,01%, ini terus meningkat pada 2018 menjadi 5,17% (data kuartal III 2018)," kata Erani dalam keterangannya, dikutip, Sabtu (26/1/2019).

Dia menyebut pertumbuhan ekonomi Indonesia mengalami tren penurunan sejak 2011-2015. Pada 2011 pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 6,4% dan turun menjadi 4,9% pada 2015,"

Dia menyampaikan setelah periode tersebut pertumbuhan ekonomi menanjak kembali secara perlahan. Ini berbeda dengan negara lain yang pertumbuhan ekonominya makin turun, termasuk China.

Selain tumbuh, ekonomi Indonesia saat ini memiliki kualitas yang lebih baik. Erani menyampaikan untuk pertama kalinya sejak 2016 pertumbuhan ekonomi Indonesia dapat menurunkan angka kemiskinan, pengangguran dan ketimpangan pendapatan secara bersamaan. Seperti diketahui, pada periode 2005-2014 ketimpangan pendapatan terus meningkat.

Karena pertumbuhan ekonomi, angka kemiskinan turun menjadi 9,6% pada 2018 dibandingkan periode 2014 11%. Kemudian angka pengangguran menjadi 5,3% pada 2018 turun dari periode 2014 sebesar 5,94%. Angka ketimpangan pendapatan turun menjadi 0,38 pada 2018 dan 0,4 periode 2014.

Erani juga menjelaskan saat ini angka inflasi di Indonesia cenderung turun. Angka inflasi saat ini menjadi ukuran perbaikan daya beli masyarakat.

Inflasi juga mencerminkan pangan terkendali. Pada 2015-2018, inflasi harga pangan atau volatile food hanya 2,2% per tahun, periode 2010-2013 rata-rata 9,6% per tahun, kemudian periode 2005-208 rata-rata 14,3% per tahun.

Pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) per kapita lebih tinggi dari inflasi. Pada periode 2015-2017, rata-rata pertumbuhan PDB per kapita tumbuh 3,68% per tahun dengan inflasi rata-rata 3,39% per tahun.

Kemudian pertumbuhan PDB per kapita sepanjang 2012-2014 rata-rata 4,1% per tahun dimana rata-rata inflasi sebesar 7% per tahun.

"Manajemen fiskal Indonesia terkelola dengan baik, yang tergambar dari defisit di bawah 3% dari PDB dan utang di bawah 30% dari PDB," ujarnya.

No comments